
Bungo- Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Bungo kembali mempertegas komitmennya dalam menerapkan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) yang digagas oleh Kementerian Agama Republik Indonesia. Salah satu langkah nyata yang dilakukan adalah pengembangan budidaya tanaman hidroponik di lingkungan madrasah dan Green House MAN 1 Bungo. Kegiatan ini diprakarsai oleh Pembina Organisasi Siswa Intra Madrasah (OSIM) dan sekaligus juga Guru Mata Pelajaran Keterampilan Hidroponik, Syamsul Bahri, S.Sos, bersama sejumlah siswa yang aktif terlibat.
Budidaya hidroponik ini menjadi salah satu bentuk implementasi KBC yang bertujuan menanamkan nilai cinta dan kepedulian terhadap lingkungan sejak dini. Kurikulum inovatif tersebut tidak hanya menekankan aspek teori, tetapi juga mendorong siswa untuk mencintai lingkungan melalui aksi nyata sebagai bagian dari ibadah dan tanggung jawab sosial.
Syamsul Bahri menegaskan pentingnya menanamkan nilai keimanan melalui kecintaan terhadap lingkungan. "Kami mengajarkan siswa bahwa mencintai lingkungan adalah bagian dari iman. Melalui hidroponik, mereka belajar bertanggung jawab, sabar, dan merasakan langsung bagaimana menjaga ciptaan Allah," ujarnya saat ditemui di Green House madrasah pada Rabu, 15 Oktober 2025.
Metode hidroponik dipilih karena memiliki banyak nilai edukasi. Selain ramah lingkungan dan efisien dalam penggunaan lahan, hidroponik juga memperkenalkan siswa pada inovasi teknologi pertanian modern, manajemen sumber daya, serta pentingnya ketahanan pangan. Dengan demikian, siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga pengalaman praktis yang bermanfaat.
Kurikulum Berbasis Cinta yang diusung Kementerian Agama RI merupakan respons terhadap kebutuhan pendidikan yang holistik. Kurikulum ini bertujuan membentuk siswa yang cerdas secara intelektual, spiritual, sosial, dan memiliki kepedulian terhadap alam. Di MAN 1 Bungo, penerapan KBC diwujudkan melalui berbagai program lingkungan, seperti budidaya tanaman hidroponik di Green House, pengelolaan sampah organik dan anorganik, program penghijauan, pemeliharaan taman, serta kampanye cinta lingkungan kepada seluruh warga madrasah.
Syamsul Bahri menambahkan, "Kami mengajarkan bahwa menjaga kebersihan, mengelola sampah, dan menghijaui lingkungan bukan sekadar kewajiban, tetapi bagian dari ibadah. Ini adalah manifestasi dari rasa syukur kita kepada Allah atas karunia alam yang telah diberikan."
Green House MAN 1 Bungo kini berfungsi sebagai laboratorium alam bagi siswa untuk belajar dan berinovasi. Berbagai jenis sayuran seperti selada, kangkung, dan sawi telah berhasil dibudidayakan dengan hasil yang memuaskan. Kegiatan ini memberikan pengalaman langsung kepada siswa tentang pentingnya menjaga lingkungan dan memanfaatkan teknologi pertanian modern.
Kepala MAN 1 Bungo menyambut baik inisiatif yang dikembangkan oleh Pembina OSIM dan para siswa. Menurutnya, program ini sejalan dengan visi madrasah untuk mencetak generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter mulia dan kepedulian tinggi terhadap lingkungan. "KBC bukan sekadar kurikulum di atas kertas. Kami berusaha mengimplementasikannya dalam kegiatan nyata yang bisa dirasakan langsung manfaatnya. Harapannya, para siswa akan tumbuh menjadi pribadi yang mencintai lingkungan dan membawa nilai-nilai ini ke masyarakat," jelasnya.
Program budidaya hidroponik ini juga diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi madrasah lain untuk mengembangkan kegiatan serupa. Dengan demikian, cita-cita Kementerian Agama RI untuk mewujudkan pendidikan yang holistik dan berbasis cinta dapat terwujud di seluruh Indonesia.
Dengan langkah-langkah konkret seperti ini, MAN 1 Bungo membuktikan bahwa pendidikan madrasah tidak hanya fokus pada penguasaan ilmu agama dan umum, tetapi juga membentuk karakter siswa yang mencintai dan menjaga lingkungan sebagai wujud keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.
Sumber : MAN 1 Bungo
Penulis : Tim Humas MAN 1 Bungo
|
376x
Dibaca |
. |
Untuk Wilayah Kab. Bungo dan Sekitarnya
Memuat tanggal...