
Bungo (MAN 1 Bungo)- Kegiatan Literasi Digital Reform di MAN 1 Bungo semakin semarak dengan kehadiran Bapak Ahmad Roiusul Ihsan, S.H., sebagai narasumber. Dalam pelatihan yang berlangsung baru-baru ini, pak Ihsan memberikan materi mengenai teknik dasar pengambilan gambar dan video. Materi ini menjadi bagian dari rangkaian kegiatan bertema "Media Digital sebagai Jembatan Pelestarian Budaya: Majalah Digital dan Dokumentasi Warisan Lokal".
Bapak Ahmad Roiusul Ihsan menekankan pentingnya dokumentasi visual dalam upaya pelestarian budaya lokal. Ia menyampaikan bahwa gambar dan video merupakan bahasa universal yang mampu menyampaikan pesan budaya secara kuat dan menarik, terutama kepada generasi muda yang akrab dengan teknologi digital. Menurutnya, dokumentasi visual yang baik dapat membuat konten budaya lokal menjadi lebih hidup dan mudah dipahami oleh berbagai kalangan, sehingga warisan budaya tetap lestari dan dikenal luas.
Dalam sesi pelatihan, Ahmad membagikan teknik dasar pengambilan gambar dan video secara sistematis. Materi yang disampaikan mencakup komposisi foto, pencahayaan, sudut pengambilan gambar, teknik framing, serta tips menghasilkan video menarik menggunakan peralatan sederhana seperti smartphone. Ia menegaskan bahwa kualitas dokumentasi tidak selalu bergantung pada alat yang mahal, melainkan pada pemahaman prinsip dasar fotografi dan videografi serta praktik yang konsisten.
Selain aspek teknis, peserta juga diajarkan pentingnya storytelling dalam dokumentasi visual. Ahmad menjelaskan bagaimana menyusun narasi melalui rangkaian gambar dan video agar pesan budaya yang ingin disampaikan dapat diterima dengan baik oleh audiens. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan peserta dalam membuat konten yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga bermakna.
Untuk memperdalam pemahaman, peserta diberikan kesempatan melakukan praktik langsung. Mereka diminta mendokumentasikan berbagai objek di lingkungan madrasah, termasuk kegiatan budaya dan aset budaya yang ada. Suasana pelatihan berlangsung interaktif, dengan para siswa saling memberikan masukan terhadap hasil karya masing-masing. Antusiasme peserta terlihat dari semangat mereka mencoba berbagai teknik yang telah dipelajari.
Dengan bekal materi dasar pengambilan gambar dan video ini, peserta diharapkan mampu mendokumentasikan kekayaan budaya lokal secara lebih profesional. Keterampilan ini sangat berguna ketika mereka membuat konten untuk majalah digital maupun platform media sosial, sehingga dapat berperan aktif dalam melestarikan dan mempromosikan warisan budaya daerah.
Kegiatan Literasi Digital Reform yang menggabungkan pembuatan majalah digital dengan pelatihan dokumentasi visual dinilai sebagai langkah strategis. Program ini mempersiapkan siswa menjadi content creator yang tidak hanya terampil secara teknis, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap pelestarian budaya bangsa.
Sumber: Pembina ICT Club
Penulis: Tim Humas MAN 1 Bungo
|
52x
Dibaca |
. |
Untuk Wilayah Kab. Bungo dan Sekitarnya
Memuat tanggal...