
Program hidroponik yang dijalankan di MAN 1 Bungo, Kabupaten Bungo, menjadi salah satu upaya nyata dalam menerapkan Pilar Kurikulum Cinta, khususnya dalam menumbuhkan kepedulian dan cinta terhadap lingkungan. Kegiatan ini dipandu oleh Syamsul Bahri, S.Sos, yang menekankan pentingnya menanam dengan hati serta menumbuhkan rasa tanggung jawab siswa terhadap alam sekitar.
Melalui program ini, siswa tidak hanya mempelajari teknik pertanian modern berbasis hidroponik, tetapi juga mendapatkan pemahaman mengenai nilai-nilai kepedulian lingkungan dan pentingnya menjaga keberlanjutan bumi. Program hidroponik ini menjadi sarana konkret dalam mengimplementasikan kurikulum berbasis cinta yang menjadi ciri khas MAN 1 Bungo.
Syamsul Bahri, selaku guru pembimbing, menyampaikan bahwa hidroponik bukan hanya sekadar menanam sayuran, melainkan juga menanamkan kesadaran dan kecintaan terhadap lingkungan. Ia menegaskan bahwa menjaga alam adalah tanggung jawab bersama yang harus ditanamkan sejak dini kepada para siswa.
Program hidroponik ini dirancang agar siswa memperoleh pengalaman langsung dalam mengelola sumber daya alam secara bijak dan berkelanjutan. Sistem hidroponik yang digunakan dikenal ramah lingkungan, hemat air, dan tidak memerlukan pestisida kimia, sehingga menjadi contoh nyata produksi pertanian yang tidak merusak alam.
Kepala MAN 1 Bungo, Abi Dony Afrian, M.Pd.I, menegaskan bahwa program hidroponik ini sejalan dengan visi madrasah dalam menerapkan Pilar Kurikulum Cinta Terhadap Lingkungan. Ia berharap langkah kecil yang dilakukan madrasah dapat memberikan dampak besar bagi masa depan yang lebih hijau. "Kami ingin siswa-siswi kami tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga peduli lingkungan," ujarnya.
Dalam pelaksanaannya, siswa MAN 1 Bungo belajar berbagai aspek pengelolaan hidroponik, mulai dari persiapan media tanam, pemilihan bibit, pemberian nutrisi, hingga perawatan tanaman. Mereka juga diajarkan untuk memahami siklus hidup tanaman dan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem agar lingkungan tetap lestari.
Salah seorang siswa yang terlibat dalam program ini mengungkapkan bahwa mereka belajar bahwa setiap tindakan terhadap lingkungan memiliki dampak. Melalui hidroponik, siswa memahami cara menanam yang ramah lingkungan dan berkelanjutan, sehingga menambah wawasan dan kepedulian mereka terhadap isu-isu lingkungan yang berkembang saat ini.
Selain aspek teknis, program hidroponik ini juga mengintegrasikan pembelajaran tentang pelestarian lingkungan dengan konsep keagamaan, yaitu tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi. Siswa diajak memahami bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian dari ibadah dan kewajiban sebagai hamba Allah.
Syamsul Bahri menambahkan, melalui program ini siswa belajar nilai-nilai penting seperti kesabaran, ketekunan, dan kepedulian. Merawat tanaman setiap hari melatih komitmen dan tanggung jawab, yang merupakan bagian dari pembelajaran karakter di madrasah.
Hasil dari program hidroponik ini tidak hanya berupa sayuran segar yang sehat, tetapi juga terbentuknya kesadaran ekologis di kalangan siswa. Mereka menjadi lebih peka terhadap isu lingkungan dan termotivasi untuk berkontribusi dalam pelestarian alam di masa depan.
Kepala MAN 1 Bungo menegaskan komitmen madrasah untuk terus menumbuhkan generasi yang cinta lingkungan dan peduli terhadap keberlanjutan bumi. Program hidroponik ini membuktikan bahwa pendidikan karakter dan kepedulian lingkungan dapat diintegrasikan secara nyata dalam kegiatan pembelajaran. Dengan keterlibatan aktif siswa, harapan untuk masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan terus tumbuh di MAN 1 Bungo.
Sumber: Guru Hidroponik
Penulis: Tim Redaksi MAN 1 Bungo
|
38x
Dibaca |
. |
Untuk Wilayah Kab. Bungo dan Sekitarnya
Memuat tanggal...