
Siswa kelas XI IPS 3 Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Bungo berhasil memanen sawi hidroponik yang mereka budidayakan sendiri. Kegiatan panen ini berlangsung setelah sebelumnya kelas XI IPS 2 sukses memanen kangkung hidroponik. Di bawah bimbingan Ibu Tati Nurhayati, S.P, para siswa menunjukkan dedikasi tinggi dalam merawat tanaman hingga masa panen tiba.
Berbeda dengan kelas sebelumnya yang memilih kangkung, kelas XI IPS 3 memutuskan untuk menanam sawi sebagai bagian dari pembelajaran keterampilan hidroponik. Pilihan ini memberikan variasi dalam praktik bercocok tanam modern di lingkungan madrasah. Sawi yang dipanen terlihat segar dengan daun hijau mengkilap, menandakan perawatan yang optimal selama masa pertumbuhan. Proses penanaman hingga panen berlangsung sekitar 30 hingga 40 hari, dan para siswa menjalani setiap tahap dengan penuh tanggung jawab.
Ibu Tati Nurhayati menyampaikan apresiasi atas semangat dan kerja keras para siswa. Ia mengatakan, "Alhamdulillah, siswa-siswa kelas XI IPS 3 sangat antusias dalam merawat tanaman sawi mereka. Mereka rutin mengecek kondisi air, nutrisi, dan kebersihan sistem hidroponik." Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya mempraktikkan teknik menanam, tetapi juga memahami konsep penting seperti pH air, kebutuhan nutrisi tanaman, sirkulasi oksigen, serta pengendalian hama dan penyakit secara organik.

Sejak awal semester, siswa telah mempelajari teori dasar hidroponik sebelum terjun langsung ke praktik. Mereka belajar menyiapkan media tanam, membuat larutan nutrisi, menyemai benih, memindahkan bibit ke sistem hidroponik, dan melakukan pemantauan pertumbuhan secara berkala. Salah seorang siswa mengungkapkan kegembiraannya, "Saya senang sekali bisa belajar cara menanam modern seperti ini. Tidak perlu lahan luas, tidak kotor karena tanpa tanah, tapi hasilnya bagus."
Sawi hidroponik yang dihasilkan memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan sawi konvensional. Pertumbuhannya lebih cepat, lebih bersih karena tidak bersentuhan langsung dengan tanah, serta bebas dari pestisida kimia. Hal ini membuat sawi hidroponik memiliki nilai jual yang lebih tinggi di pasaran. Ibu Tati menambahkan, "Sawi hidroponik yang kita panen ini sangat sehat dan aman dikonsumsi. Siswa bisa membawa pulang untuk keluarga atau bahkan mencoba memasarkannya sebagai pembelajaran kewirausahaan."

Program hidroponik ini memberikan dampak positif bagi siswa, tidak hanya dari segi keterampilan praktis, tetapi juga dalam hal tanggung jawab, disiplin, kerja sama tim, dan kemampuan memecahkan masalah saat menghadapi tantangan dalam budidaya. Kepala MAN 1 Bungo menyatakan kebanggaannya atas pencapaian siswa dalam program keterampilan hidroponik ini. Ia menegaskan bahwa program tersebut sejalan dengan visi madrasah untuk mencetak lulusan yang cerdas secara akademik dan memiliki keterampilan hidup yang bermanfaat.
Melihat hasil panen yang memuaskan dan antusiasme siswa, pihak madrasah berkomitmen untuk mengembangkan program hidroponik ke depannya. Akan ada lebih banyak kelas yang terlibat dengan variasi tanaman yang lebih beragam. Ibu Tati Nurhayati berharap keterampilan yang diperoleh siswa dapat diterapkan di rumah masing-masing. "Hidroponik bisa dilakukan di lahan sempit, bahkan di halaman rumah. Semoga ilmu ini bermanfaat untuk siswa dan keluarga mereka," ujarnya.
Sumber : Guru Mapel Hidoponik
Penulis : SN
|
31x
Dibaca |
. |
Untuk Wilayah Kab. Bungo dan Sekitarnya
Memuat tanggal...