
BUNGO (MAN 1 Bungo) - Hidroponik berasal dari kata Yunani yaitu Hydro yang berarti air dan ponos yang artinya daya. Hidroponik juga dikenal sebagai soilless culture atau budidaya tanaman tanpa tanah, jadi hidroponik adalah suatu cara menanam tanpa menggunakan media tanah dan memanfaatkan air sebagai medianya.
Siswa MAN 1 Bungo kini memiliki bekal tentang cara budidaya tanaman menggunakan sistem hidroponik. Ini setelah mereka mendapatkan pelatihan hidroponik oleh Bpk. Afrizal selaku anggota TNI AD sekaligus pengusaha tanaman hidroponik.
Tak hanya sekedar teori, para siswa juga diajak praktik langsung sistem hidroponik dengan menggunakan media pipa. Sayuran yang ditanam antara lain sawi, bayam, kangkung, lombok dan lain - lain.
Siswa pun terlihat sangat antusias mendengarkan materi sekaligus praktek bersama Bpk. Afrizal selaku pengusaha tanaman hidroponik.
"Kami senang bisa menanam sayur sawi, bayam dan kangkung. Seru bisa menjaga tanaman dan harus telaten," ucap salah satu siswa disela-sela kegiatan menanam.
Afrizal menuturkan, tanaman hidroponik memiliki kelebihan dibandingkan sayuran yang ditanam secara konvensional. Antara lain bisa dikonsumsi langsung karena perawatannya tidak menggunakan pestisida. Keunggulan lainnya adalah tidak membutuhkan lahan yang luas.
"Hasilnya pun bisa lebih produktif dibanding model tanam konvensional asalkan dirawat secara benar," ucapnya.
Kepala MAN 1 Bungo, Bpk. Dony Afrian, M.Pd.I menuturkan, pembuatan hidroponik tersebut juga merupakan kegiatan peduli lingkungan menuju madrasah adiwiyata atau madrasah peduli dan berbudaya lingkungan. 'Media tanam ini dibuat sebagai salah satu program untuk menghijaukan madrasah agar nyaman dan indah,' tambahnya.
"Ini juga memotivasi siswa tentang jiwa kewirausahaan. Karena budidaya hidroponik bisa mendatangkan nilai ekonomis bagi siswa, guru maupun madrasah," ucapnya
Menurut Kamad MAN 1 Bungo, pelatihan ini sengaja mendatangkan narasumber dari luar. Harapannya bisa menambah wawasan keilmuan siswa dan wali murid tentang hidroponik langsung dari pakarnya.
Media pembelajaran, lanjutnya, saat ini tidak harus selalu di dalam ruang kelas dengan cara mendengar penjelasan guru. Namun bisa dilakukan dengan cara mendatangkan narasumber maupun kunjungan ke beberapa tempat. Hal ini agar siswa tidak bosan.
"Kami berharap budidaya ini bisa dikembangkan sehingga madrasah bisa mendapatkan nilai ekonomis dari hidroponik ini," imbuhnya. (Intan Marlina)
|
1340x
Dibaca |
Untuk Wilayah Kab. Bungo dan Sekitarnya
Memuat tanggal...